Jumat, 25 November 2011 - 17:26:23 WIB
Broker ditolak kelola premi
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Serba Serbi - Dibaca: 136044 kali

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) bersikeras mengusulkan ada klausul pialang asuransi dilarang mengelola premi asuransi atau kontribusi takaful dalam revisi UU Perasuransian.

Ketua umum AAUI Kornelius Simanjuntak menyatakan wacana tersebut agar dimasukkan dalam revisi No.2/1992 tentang Usaha Perasuransian, dan hal itu telah sejalan dengan kajian mereka. Namun, kalangan broker memprotes keras rencana itu. Dia mengatakan berdasarkan pengalaman anggota, pembayaran premi dari perantara sering kali terlambat yang akhirnya terkadang menimbulkan dispute. "Sebenarnya kami tidak keberatan pembayaran premi melalui broker, tapi dibayarkan cepat, utamanya untuk bisnis ritel. Kajian kami polis baru akan diterbitkan kalau ada pembayaran preminya, seperti di sektor jiwa, jadi persoalannya bukan melalui broker atau tidak," tuturnya di Jakarta, baru-baru ini. Dia meminta hal ini diletakkan sesuai proporsinya bahwa jasa proteksi asuransi kerugian diberikan jika premi sudah dibayar.

Pelaku asuransi umum memerlukan perantara untuk membantu menagih premi kepada tertanggung, seperti halnya mereka mewakili tertanggung saat mempro-ses klaim. Kornelius mengatakan pelaku asuransi umum memahami jika pembayaran tepat waktu untuk renewal agak sulit diiakukan oleh tertanggung korporasi dengan bilangan premi yang besar, misalkan Rp 500 juta atau Rp l miliar. Dia mengatakan pembayaran premi dimungkinkan untuk dicicil beberapa kali. Namun, pelaku asuransi umum hanya akan menerbitkan polis baru saat cicilan pertama sudah lunas. Menurut Kornelius lambatnya pembayaran premi tidak sepenuhnya kesalahan broker, tetapi penanggung juga membuka celah dengan adanya perjanjian kerja sama kedua pihak. Padahal, ada ketentuan pencatatan aset yang diperkenankan {admitted asset) dalam jangka waktu tertentu.

Wacana melarang agen pialang asuransi untuk memungut, menerima, menahan, atau mengelola premi asuransi atau kontribusi takaful dilontarkan oleh Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK Isa Rachmatarwata saat rapat umum anggota Asosiasi Broker Asuransi dan Reasuransi Indonesia (ABAI) di Bandung baru-baru ini. Pembayaran premi akan dilakukan nasabah langsung kepada perusahaan asuransi untuk menekan perselisihan yang mungkin timbul akibat keterlambatan pembayaran premi. Pialang dan perusahaan broker asuransi keberatan karena pendapatan lain-lain dari bunga bank dana premi sebelum disetor ke perusahaan asuransi berpotensi terpangkas hingga 60%. Isa mengatakan isu larangan ti dak baru karena beberapa negara lainnya sudah ada yang menerapkan kebijakan itu. "Agak ironis juga suatu usaha pialang asuransi tapi incomenya dari bunga. Masak jenis usaha dari pialang asuransi tapi dia tidak mendapatkan penghasilan dari jasa pialang asuransi, itu ironis."

{Bisnis, 23 November 2009) Peran hilang Ketua umumi Asosiasi Broker Asuransi Indonesia (ABAl) Mira Sih'hati mengatakan faktor terpenting bukan kehilangan pendapatan yang lain, melainkan hilangnya peranan broker. Dia meyakini akan timbul berbagai permasalahan utamanya jika broker dan perusahaan asuransi tidak tertib admihistrasi. "Kalau broker tidak tertib administrasi, dia tidak monitor apakah klien benar sudah membayar ke asuransi, begitu ada klaim yang salah broker juga," Ujarnya Direktur Eksekutif AAJI Stephen Juwono mengatakan sebaiknya peran broker tidak dihilangkan dengan meminta tertanggung langsung membayar premi ke perusahaan asuransi. Dia mengatakan di negara lain kebanyakan broker beroperasi dengan dua akun. Pertama; trust account yang tidak boleh'. disentuh dan diaudit setiap tahunnya. Rekening itu memuat premi dari nasabah kecuali komisi dan brokerage fee yang harus segera dipisahkan dan dimasukkan dalam rekening kedua yakni operation account.

 

(Sumber abai.or.id)




Share |



0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 



Berita dan Artikel terbaru